Saya ingat, ketika itu Pak Hendro Wicaksono (lead dev SLiMS) pernah mengatakan ke saya, "saya juga ndak nyangka mas, kenapa Senayan bisa jadi seperti ini". Lontaran itu muncul ketika kami ngobrol tentang munculnya komunitas SliMS di berbagai tempat di Indonesia.
Para pembaca mungkin juga berfikiran sama dengan kami. Semenjak Komunitas SliMS Jogja muncul, berbagai pegiat SliMS di kota lain juga bermunculan. Ada yang dikendalikan oleh "alumni" pegiat SLiMS Jogja tapi ada juga yang "bersemangat" membangun komunitas karena mendapat ide dari diskusi di jejaring sosial. Sebut saja Erist di Kudus yang pada awalnya juga menjadi "beberapa orang" yang pertama ikut belajar di Jogja. Pak Hartoyo di Kudus, Wisnu di Solo juga merupakan alumni komunitas SLiMS Jogja.
Selain Jogja, Kudus dan Solo komunitas SLiMS juga muncul di Sumatra Barat, Ambon, Makassar, Jawa Barat, Malang, Surabaya,
Bagi saya, ada hal menarik semenjak munculnya komunitas SLiMS ini. Ketika saya membuka sebuah blog Komunitas SLiMS Pacitan (http://pacitan-lib.blogspot.com/), ternyata penggeraknya adalah para mahasiswa UT. BLog yang mereka bangun lebih dari sekedar lumayan, dengan tampilan yang menarik dan diisi dengan berbagai informasi terkait perpustakaan. Saat itu saya merenung, bahwa ternyata mahasiswa UT pada jurusan Ilmu Perpustakaan mampu melakukan ini.
Jangan remehkan mahasiswa Ilmu Perpustakaan UT.....
Pada judul tulisan ini saya tulis semangat Corsa pengelola perpustakaan, bukan sekedar pustakawan. Kenapa? karena ternyata SLiMS juga mempu menarik minat para pengelola perpustakaan yang tidak mempunyai pendidikan formal ilmu perpustakaan.
Lulusan SMA, Guru, bahkan alumni Sekolah Menengah Perkebunan sampai dengan para lulusan TI juga tertarik kepada SLiMS. Pada suatu saat ketika saya diminta mengisi training SLiMS pada sekolah di bawah Depag pesertanya adalah Guru dan TU yang
Dan, sepertinya cukup berhasil. Ideologi bahwa dengan SLiMS dapat menekan biaya pengadaan software sehingga biaya dapat dialihkan ke pengadaan koleksi cukup merasuk kepada mereka. Bahkan, waktu itu (training di Hotel Ambarukmo Jogja), pesertanya ada yang dari pengawas Depag provinsi DIY. Saya gunakan saja kesempatan itu untuk memberitahukan apa sebenarnya SLiMS sekaligus pengalaman yang dialami pustakawan ketika penilaian perpustakaan, misalnya tuntutan adanya katalog tercetak.
Tahukan anda, para pengelola perpustakaan ini (terkait SLiMS) sering berdiskusi di jejaring Sosial terutama facebook? Anda dapat menemukan diskusinya di Group FB SLiMS (http://facebook.com/groups/senayan.slims), atau juga di group komunitasnya masing-masing. Selain di FB mereka juga diskusi di milis ics_isis@yahoogroups.com serta forum resminya SLiMS di http://slims.web.id/forum/
Mulai dari yang paling sederhana, bagaimana install SLiMS sampai berbagai bagaimana mengoptimalkan bahkan memodifikasi SLiMS....
Munculnya komunitas SliMS itu membuat haru, tapi ternyata nilai lebih dari munculnya komunitas ini dan yang membuat lebih terharu lagi adalah SLiMS dapat berkontribusi dalam membangun semangat kekompakan para pustakawan......
Biarlah, meskipun komunitas ini hanya berada pada lebel akar rumput, tidak punya ikatan resmi pada pemerintah, Badan Perpustakaan dan semacamnya, namun toh mereka tetap hidup dan semoga tetap hidup dan berkreasi serta ikut meningkatkan kemampuan para pustakawan. Namun demikian, terimakasih untuk institusi baik negeri atau swasta yang berkenan menampung komunitas dalam berkegiatan........ Jasamu tiada tara...
Komunitas SliMS di mana saja, mari kita belajar bersama. Belajar SLiMS dan juga berbagai aspek dalam ilmu perpustakaan.... Jadikan SLiMS sebagai sarana perekat dan penyemangat kita untuk berkreasi. Codinglah, mengajarlah, belajarlah, melihatlah, mendengarlah, menulislah, ngeblog-lah, dan bermanfaatlah bagi semuanya...
Salam Komunitas...
*purwoko*
http://facebook.com/groups/senayan.slims






kebutuhannya. Secara fisik, Meranti merupakan pohon yang menjulang tinggi dengan mempunyai banyak dahan. Sayangnya pohon yang berkualitas dan banyak dimanfaatkan ini akhirnya menjadi pohon yang cukup langka.
Meranti dibangun sejak SDD yang diadakan di Bogor, Jawa Barat pada bulan Maret 2012. Pada SDD kali ini, para personil SDC mengerjakan Meranti mulai dari fitur, user interface, dokumentasi dan lain sebagainya. Setelah SDD, Meranti yang telah diunggah dalam Github tetap disempurnakan berdasarkan masukan dari para pustakawan yang telah mencoba dan juga melaporkan kekurangan (bug) Meranti. Dengan dukungan dari komunitas inilah, Meranti dapat mencapai wujudnya yang ideal dan akhirnya Meranti di unggah secara resmi (release resmi) pada web SLiMS pada tanggal 20 Mei 2012 (http://slims.web.id).
besar-besaran baik pada fitur maupun user interface SLiMS. Beberapa perubahan itu adalah tampilan OPAC dan Admin yang keluar pakem SLiMS selama ini. Sementara itu beberapa fitur baru pada Meranti adalah: pengambilan foto member langsung dari SLiMS (seperti ketika mengambil foto e-ktp), shortcut yang memberikan pengalaman baru kepada anda dalam berpindah antar menu dalam SLiMS, Copy Cataloging dengan SRU yang tidak membutuhkan tambahan install aplikasi php-yaz layaknya Z39.50 sebelumnya, dukungan OAI-PMH, tambahan bahasa Brazilian Portuguise, seting pernghitungan denda pada hari libur, Zend Barcode serta berbagai perbaikan bug.
dari 960.gs. Selain 960 grid system, mas Eddy juga menyampaikan banyak hal terkait tool untuk membuat disain web. Ada Color Scheeme yang tersedia online dan offline, Lorep Ipsum yang digunakan untuk membuat contoh text dalam pembuatan web. Mas Eddy juga mendemokan pembuatan beberapa disain web dengan meniru disain yang ada di internet. Disain-disain yang tampak rumit itu, ternyata dengan 960 grid system dapat di "tiru" dengan mudah.


